Senin, 08 Agustus 2016

Berjudi Dengan Waktu

Maaf..

Aku hanya bisa merasakannya tanpa bisa menterjemahkannya dalam bentuk kata..

Ternyata bahasaku terlalu terbatas untuk sekedar mengartikan atau bahkan merangkainya menjadi sebuah kalimat yang bisa dimengerti untuk ku maknai sendiri..

Indah parasmu, pesonamu yang menguap diudara berbisik lirih menggenapi separuh nafasku.

Dan sekali lagi,

Maaf..

Aku hanya bisa menunggu waktu yang tepat untuk berumah dihatimu.

Karena disanalah aku ingin selamanya berada.

Selasa, 24 Mei 2016

Untukmu Langit Senjaku

Beberapa kata hanya menggema dalam batin tanpa pernah menyentuh pita suara dan tak pernah melompat keluar dari mulut yang menganga.

Beberapa kata hanya mengendap, meninggalkan sisa-sisa residu yang meracun batin dan menggerogoti jiwa yang sekarat tanpa rasa.

Beberapa kata yang berbunyi lirih dan beresonansi dalam bentuk bisikan kecil di hati kala terlihat sekilas oleh mata :

"Indahmu hanya abadi dalam benakku, mengkristal dalam hatiku, dan membeku dalam tiap mimpiku"

"Nada bicaramu membungkam mulutku, mengajarkanku untuk lupa bahwa aku masih diatas bumi untuk berpijak sedang engkau terbang tinggi meleburkan pesonamu di atas langit semua orang"

"Dalam lupa-ku aku menjemput senyummu, mengabadikan parasmu, dan merengkuh serpihan hatimu. Menggenapimu dalam cerita tanpa batas akhir"

"Hembusan angin malam mengakhiri lupa-ku, dan kembali mendaratkan sadarku dalam pijakan rapuh berbatas waktu, namun kau masih terbang. Di atas sana, terbebas dari segala macam keterbatasan dan mengindahkan langit dengan senyummu"

"Arah membawamu pergi, menanamkan kekosongan yang akhirnya mengakar dalam bentuk duka di tempatku berpijak dan menebarkan sepi yang datang seiring dengan sirnamu"

"Namamu mengabadi, dan setiap kali aku mengingatnya hatiku selalu saja jatuh, jauh kedalam dirimu sembari melebur bersama senja tempat dimana kita saling memandang. Membuat kagumku tak berhenti berdecak"

Saat rahasia mulai tercecap. 
Awal selalu terlihat mempesona, akhir kadang tak bermakna.
Aku mengabadikan nama dalam tulisan.
Menunggu bersatu untuk diartikan.

Rabu, 27 April 2016

Sebuah Indah yang Tersisa

Aku mengagumimu dalam keindahan yang mungkin hanya bisa terlihat olehku...

Mengagumi caramu memandang dunia...


Mengagumi segala keterbatasan dan kesederhanaanmu... 


Mengagumi tutur katamu yang sarat akan makna... 


Kamu tempat segala kerinduanku bermuara... 


Kamu lah keindahan abadi, yang indahnya membuatku terpaku didalam palung hatimu yang tak berujung... 


Didalam hatimulah, aku akan selamanya disana.

Merpati Putih Cover by : BabyGreen




Vocal : Putri Sayuwiwid
Guitar : Rian Wihantama
Bass : Aulia 'Ur Rohman
Keyboard : Zakky Fawqi
Drum : Ichal Major

Re-Arranger by : BabyGreen

Cuap-cuap Pasca KKN di Desa Ngampungan


Untuk beberapa saat kita hidup dalam kebersamaan yang pada awalnya terasa asing. Kita tidak saling kenal satu sama lain, memiliki berbagai macam sifat yang masih belum diketahui oleh masing masing dari kita. Selama hampir dua minggu kita dipaksa bersama, saling berbicara satu sama lain, saling mengenal dan saling berbagi dalam keterbatasan.

Mau tidak mau semua ini menjadi kebiasaan yang mengenang. Ngantri kamar mandi, join kopi di sore hari, main kartu sampai subuh, ngobrolin dunia nyata sampai dunia ghoib, makan masak bareng, otewe ke balai desa cari sinyal, nyanyi nyanyi sebatas reff lalu ganti lagu, jalan bareng kerumah pak mudin demi sesuap nasi, rasan rasan manusia yg paling terisolasi dalam kelompok, banyak lah mau nulis satu satu toh ya udah kerekam di ingatan masing masing.

Sampai tiba pada hari berpisah dimana tangis haru khas perpisahan pecah dan menjadikan makhluk makhluk yang biasanya begejekan jadi sendu semua. Semua pada akhirnya akan berpisah. Kebersamaan lah yang membuat perpisahan menggoreskan kenangan manis yg sukar dilupakan.

Terimakasih teman teman KKN kelompok 7, Desa Ngampungan tercinta, Pak Rohan dan Pak Mudin. Semua ini menjadikan perpisahan pada minggu tanggal 17 januari kemarin menjadi perpisahan termanis. Terimakasih untuk semuanya, kalian luar biasa ~

Tanya Diri


Dia berbicara melalui mulut anak kecil yang sedang bersenda gurau dengan teman sebayanya di bangku taman.


Dia berbicara melalui khotib yang di atas mimbar menyinggung masalah keterkaitan antara sholat dan kebahagiaan.

Dia berbicara melalui bisikan lirih suara hati kecil yang sekarat karena terlalu lama terabaikan.

Dia berbicara melalui orang tua, guru, sahabat, dan bahkan orang lain yang hanya sekedar mampir minum kopi di warkop-warkop jalanan.

Dia berbicara melalui rintik hujan dan hembusan angin serta suara petir yang menggelegar.

Dia berbicara melalui langit, indahnya awan, bintang, dan gelap malam.

Dia berbicara melalui kesunyian dalam kamar tidur yang menjelaskan apa-apa yang tak pernah terucap.

Dia berbicara pada tiap detik hidupmu berjalan, tiap tarikan nafas, tiap pergerakan mata, tiap frekuensi yang ditangkap telinga, tiap panas atau dingin atau sakit yang dirasakan oleh kulit, dan pada tiap rasa yang kadang meleburkanmu dalam duka dan lara.

Pernahkah terfikirkan sejenak untuk berhenti bertanya atau menghujat dan mulai mendengar?

Bahwa setiap jawaban yang selalu berpasangan dengan tanya setiap detik hadir namun selalu terabaikan karena pikiran terlalu sibuk bertanya dan meminta semua keinginan semu yang bahkan tidak nyata.

Mulai mendengar, berhenti mengeluh.

NggeDaBlues


The Best Of Time Cover by : Rian Wihantama