Beberapa kata hanya menggema dalam batin tanpa pernah menyentuh pita suara dan tak pernah melompat keluar dari mulut yang menganga.
Beberapa kata hanya mengendap, meninggalkan sisa-sisa residu yang meracun batin dan menggerogoti jiwa yang sekarat tanpa rasa.
Beberapa kata yang berbunyi lirih dan beresonansi dalam bentuk bisikan kecil di hati kala terlihat sekilas oleh mata :
"Indahmu hanya abadi dalam benakku, mengkristal dalam hatiku, dan membeku dalam tiap mimpiku"
"Nada bicaramu membungkam mulutku, mengajarkanku untuk lupa bahwa aku masih diatas bumi untuk berpijak sedang engkau terbang tinggi meleburkan pesonamu di atas langit semua orang"
"Dalam lupa-ku aku menjemput senyummu, mengabadikan parasmu, dan merengkuh serpihan hatimu. Menggenapimu dalam cerita tanpa batas akhir"
"Hembusan angin malam mengakhiri lupa-ku, dan kembali mendaratkan sadarku dalam pijakan rapuh berbatas waktu, namun kau masih terbang. Di atas sana, terbebas dari segala macam keterbatasan dan mengindahkan langit dengan senyummu"
"Arah membawamu pergi, menanamkan kekosongan yang akhirnya mengakar dalam bentuk duka di tempatku berpijak dan menebarkan sepi yang datang seiring dengan sirnamu"
"Namamu mengabadi, dan setiap kali aku mengingatnya hatiku selalu saja jatuh, jauh kedalam dirimu sembari melebur bersama senja tempat dimana kita saling memandang. Membuat kagumku tak berhenti berdecak"
Saat rahasia mulai tercecap.
Awal selalu terlihat mempesona, akhir kadang tak bermakna.
Aku mengabadikan nama dalam tulisan.
Menunggu bersatu untuk diartikan.